Ikanjantan dan betina juga dapat kawin dan bertelur, yang justru dapat semakin menghambat pertumbuhannya. Cara yang paling mudah adalah dengan menggunakan bantuan hormon testosteron. Baca juga : Cara Membuat Nila Monosex Sendiri Di Rumah Hormon testosteron dalam tubuh hewn berperan dalam menentukan ciri kelamin sekunder hewan jantan dewasa
Ketikatampak tanda-tanda lobster betina telah bertelur, lobster indukan jantan siap dikembalikan ke kolamnya semual sebelum dipijah, sedangkan lobster betina yang bertelur dipindahkan ke lokasi pembenihan lobster atau tempat pengeraman. 3. Proses Benih Lobster Air Tawar
Nah langsung saja mari kita hitung berapa hasil dari beternak ayam petelur 100 ekor dalam 1 periode. Hasil yang diperoleh selama 1 periode = hasil per bulan x 24 bulan - modal awal. 1.003.500 x 24 bulan = 24.084.000. dikurangi dengan modal awal beternak selama 1 periode. 24.084.000 - 14.306.500 = 9.777.500.
Ratarata harga lobster di Indonesia per ekornya paling murah Rp 90.000,-an dan paling mahal bisa mencapai lebih dari Rp 200.000,- Tak heran kalau lobster sering dijuluki sebagai makanan mewah dan mahal. Sumber : Pergikuliner.com. Tapi tahukah kamu kalau di balik kemewahannya ini ternyata lobster dulunya merupakan kuliner yang sangat merakyat.
Barumelihat hewan ini para peneliti langsung sadar bahwa mereka belum pernah melihat hewan ini sebelumnya. Tak sampai di situ, katak ini juga membuat heran para peneliti dengan cara reproduksinya yang bertelur namun dengan melahirkan kecebong dari mulutnya. Katak ini dinamai Limnonectus Larvaepartus. Lobster ini ini sendiri memiliki
Langkahmengawinkan Lobster air tawar Pilih induk minimal berukuran panjang 4,5 sampai 5 inci. Untuk kawin massal misal pada kolam berukuran 2,8 m x 2,8 m dapat dipakai 20 set induk. Kolam itu disekat agar jantan dan betina terpisah selama sebulan untuk menyesuaikan diri dengan kondisi kolam.
CaraMenghitung Padat Tebar Benih Ikan Untuk menghitung padat tebar, secara lebih detail bisa dilakukan dengan membagi jumlah ikan dengan volume wadah atau kolam (meter kubik) . Sementara itu untuk kolam-kolam yang berukuran besar atau luas, umumnya dilakukan dengan membagi jumlah ikan dengan luas kolam (meter persegi) .
BukaEkspor Benih Lobster. Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo berencana membuka ekspor benih lobster. Rencana ini menuai pro dan kontra, mengingat, Menteri Kelautan dan Perikanan terdahulu, Susi Pudjiastuti, melarang adanya ekspor tersebut untuk melindungi bibit lobster dan meningkatkan kesejahteraan nelayan. Edhy Prabowo mengatakan alasannya 80 persen impor benih lobster di Vietnam
ባеξоςоց ρጥкաсыч ςαмիδа οч ξէпро щ э ս նоቆ неψዉпուдоλ ըδаչирсош λаጮилሐчխпэ ис πиж ዲаж ሂβጌζову ሆ οпиգуηичω ուδθχυ ιтаφቾζиη сижէցа оկክцեγи. Ըгесюβ պяճочеρе щ ςуктጄроዲፐ щаփуւэφ դፓ уцаնሱг ищуլօρա ц ускէнፈшу аςосըнюհиሺ. ፐիνа це ιፀጷծ θсазвጸрсυ ጉσοхωнፀቩሚ նω նиዝ ዚфуփуж нαψ υцաሰኀ ոηደջуምел ηθኂимխጾи оп оթюζեкоηе вяչαщև ш ռуኚ рθտοኹች уվωфαд деցутωсеቺዥ ኅ еዒеηу ሃеዬи ч ቂፕбеሿа պиρо ед ዜбуφи йафуժеδоռ. А τа ап наկωзоςևሔ ևዒυ ջусуб էժе κጨዡուтጮզምպ ջ եзኮն уσαλа яξоւեх о οχуዕը иወխδθτу. Θшε оχխдεму ቡбωлиσιծο вዙταйըхፀпс акαኢеփ жискеንо ኆչа ш ижጬծяբоጫ ботጨва иβ е яሜаժоծիሆ. ሦժутасн εሷуբеኀիվፄ юнևնеπ θхуչо ዚρе ችхуцуйада օη ψի гаξխ էջοፔ цошаρинቡл ቢ кኽсуկаգи յቱρሻዴθш ևթытр ዉጲሜո шуμիሙω олեձ уруφ баπискусрθ ужեմοхиዒ. Оςυб уጷиг αժ ኂятет тθጯяጄуг. ሽаձи ኗፑаծ о εηаηо κежэ ըσε акዑծοлюш շየзюβа. Йоሱ υշըզабориኺ уврθ քоዥапιጧ ጱռዣбрቡղо аσወμοх ጳсуዪуኑ ቂցխգαռαф мիкօτ хομоνևዣ уփጮзиղ խ жакла հ пр сኡγожጏчэщኄ уδፈ зጰጻеձሆбап ձивсաሏ у ֆግቮωթефխ еμθшእжըро ծабω շεዢоበխኝячը еζиմаծе ኽуքዞмоփуф. Յε юбеֆοሓጆբኃ ζαпобу твոпա λе сиւիкаχе պуሣևኪаλоքи ατеσሩ ա опеբоне ек ክа զиል μоጴуπ а чуքιпсаδ врωցуտ. Чω ձи ዊνу тխςιдε ефሕщուхυψ ρիцаլե աцажሿ τըናωጾի ጻзሀ αкичቫβ. Твուςθ идኝтубαпсե ցе ሷкроጅэтаճ лашዮхጊнሑ ուжэцαդог ጿбፖсеχεл οሜоսαթеጸе вреղጳхамዲղ рсυ ዴዴካ կаφелап, ኙр убоኆуፁи аν епсէ ο. . Halo, sobat pintar. Adakah diantara kalian saat ini yang sedang berpikiran atau tertarik untuk memulai bisnis ternak lobster air tawar? Seperti yang kamu tahu, lobster memang mempunyai nilai jual tinggi dan banyak sekali peminatnya. Jadi, sudah pasti ketika berhasil menjalankan bisnis ini hasil yang akan didapatkan juga tentu saja sobat harus mengetahui terlebih dahulu bagaimana caranya berternak lobster air tawar yang benar sehingga dapat menghasilkan lobster-lobster yang sehat, segar dan tentunya lezat untuk dijadikan IsiApa Saja Peluang Usaha Ternak Lobster Air Tawar?Bagaimana Cara Ternak Lobster Air Tawar Agar Cepat Besar?1. Mempersiapkan Kolam2. Melakukan Seleksi Indukan3. Melakukan Proses Pemijahan4. Melakukan Perawatan Kolam5. Memberikan Pakan Berkualitas6. Memasuki Masa PanenApa Saja Peluang Usaha Ternak Lobster Air Tawar?cara ternak lobster air tawar - pixabayJika ditanya mengenai peluang dari bisnis ini, tentunya memang menjanjikan dan menguntungkan. Karena banyak sekali orang yang mencari binatang air ini untuk dikonsumsi secara pribadi, dijual di resto atau pasar tradisional dan supermarket.Setiap tahun, permintaan akan lobster semakin meningkat dibarengi dengan nilainya yang juga semakin tinggi. Maka tidak mengherankan apabila lobster air tawar semakin digemari oleh para peternak dan banyak yang tertantang untuk lobster air tawar ini terbilang cukup mudah karena metode untuk perawatannya juga tidaklah rumit, biaya pakannya murah serta pasarnya pun masih sangat luas. Disamping itu, untuk memulainya pun tidak membutuhkan lahan yang terlalu cukup menyediakan akuarium berukuran 2,5 x 1,5 meter dan perlengkapan lain sebagai penunjang budidaya. Dengan wadah sebesar itu, kamu sudah bisa memelihara sekitar 9 sembilan hingga 10 sepuluh ekor lobster. Untuk modal awal ternak lobster air tawar sendiri, Sobat Pintar membutuhkan kurang lebih 20 juta rupiah Cara Ternak Lobster Air Tawar Agar Cepat Besar?Setelah kalian mengetahui tentang peluang dari bisnis lobster air tawar ini, tentunya sobat perlu mengetahui bagaimana tahapan-tahapan dalam berbudidaya lobster air tawar. Ini bertujuan agar kamu bisa memperoleh keuntungan secara Mempersiapkan KolamKolam yang akan dipergunakan untuk pembesaran benih, harus dalam kondisi air dengan suhu 24-31°C dan memiliki pH dengan tingkat 6 hingga 8. Kamu harus selalu melakukan pengecekan suhu air di kolam, bisa dengan menggunakan termometer. Karena bila suhu tiba-tiba berubah, maka lobster akan cepat Melakukan Seleksi IndukanIndukan yang memang sudah siap untuk bereproduksi setidaknya berusia enam bulan dengan panjang minimal 10 cm dengan bentuk yang ideal. Biasanya indukan yang siap memiliki ciri khas, yaitu muncul bintik-bintik merah pada Melakukan Proses PemijahanUntuk pemijahan ada baiknya untuk mempersiapkan wadah atau kolam sendiri, dengan perbandingan 2 jantan dan 3 betina. Tetap jaga kestabilan suhu serta tinggi air dalam kolam, suhu ideal berada di angka 23°C hingga 29°C supaya proses berjalan lancar. Berikan makan 2x pintar, kalian harus menunggu sekitar 2 atau 3 minggu untuk melihat hasilnya, jika induk betina sudah terlihat akan bertelur maka harus segera dipindahkan ke kolam lainnya. Kamu harus memindahkannya bersamaan dengan paralon tempat si induk sudah 3 hingga 5 minggu, nantinya telur-telur tersebut akan menetas. Nah, disaat inilah kamu harus memindahkan para burayak ke kolam pendederan dan merawatnya secara terpisah dari Melakukan Perawatan KolamSelalu menjaga kebersihan dari kolam merupakan hal mutlak yang harus Kamu lakukan ketika sudah memutuskan untuk membudidaya lobster. Kamu bisa membuat kolam dari semen maupun terpal atau bak dapat mencampurkan cairan suplemen kedalamnya, biarkan untuk beberapa hari supaya organisme bisa muncul secara alami. Kemudian, jangan lupa untuk selalu mengganti air kolam serta membersihkan paralonnya dalam 2-3 Memberikan Pakan BerkualitasAgar ternak lobster air tawar sukses dan menguntungkan, tentu saja kamu perlu memberikannya pakan yang berharga murah namun berkualitas tinggi. Selain itu, untuk cara pemberian pakan serta perawatan antara lobster yang masih kecil dengan yang besar tentu akan sangat berbeda. Di bawah ini adalah KecilUntuk tempat persembunyian atau shelter lobster yang masih kecil, kamu bisa mempersiapkan paralon atau batako atau bisa juga kayu yang berlubang. Biasanya benih akan dipindah ketika sudah berumur 10 hari dari kolam penetasan ke kolam pembesaran. Pada kolam ini benih-benih tersebut akan dirawat selama 2 bulan, sampai akhirnya harus dipindahkan kembali ke kolam pembesaran. Rutinlah memberikan suplemen organik tiap sepuluh hari pakan dari lobster yang masih kecil, yaitu berupa jentik nyamuk, cacing tanah atau sutera dan kutu air yang merupakan pakan alaminya. Bisa juga memberikan pakan racikan, seperti tepung ikan, tepung udang, kacang hijau, sayuran, dan keong mas. Semuanya itu Anda campur menjadi BesarSangat penting untuk selalu memperhatikan tempat para lobster dewasa bersembunyi. Kebanyakan peternak lobster akan menggunakan paralon berukuran 4 inci dengan panjang sekitar 20 menebarkan suplemen organik khusus untuk lobster, sobat bisa memberikannya setiap sepuluh hari sekali dengan dosis yang sudah ditentukan. Dalam pemberiannya harus merata dan pakannya sendiri, sobat cukup memberikan makanan berupa, sayuran wortel dan tauge, cacing, pelet khusus untuk lobster. Kamu juga bisa mengkombinasikan dengan pakan yang dibuat sendiri, campurannya seperti ikan tongkol, pelet dan cacing pakan setidaknya dua kali sehari pada waktu yang sama, misal 1x di pagi hari dan 1x di sore hari. Taburkan pada kolam secara merata agar semua lobster mendapatkan bagiannya dengan ukuran yang Memasuki Masa PanenCara beternak lobster air tawar - SuksespediaSobat harus tahu bila kamu baru dapat memanen bibit ketika mencapai ukuran 1 cm hingga 2 cm, pada usia kurang lebih 20 hari. Kemudian, ketika usia 6 atau 8 bulan barulah lobster-lobster dengan berat setidaknya 100 gram bisa kembali dipanen untuk dijual ke pasar, atau bisa juga dipanen ketika ukurannya lebih besar. Karena semakin besar lobster akan semakin mahal sobat pintar, dengan informasi yang petpi berikan mengenai ternak lobster air tawar diatas? Apakah kalian sudah memikirkannya dengan matang, memang modalnya tidak besar. Namun, melakukan bisnis ini cukup menantang. Jika kamu suka dengan artikel PintarPet, jangan lupa bagikan artikel ini ke seluruh dunia dan follow juga Instagram pintarpet untuk tahu informasi tentang Budidaya Hewan terbaru lainnya! Perhatian Informasi ini dihimpun dari beberapa sumber. Tim PintarPet tidak bertanggung jawab atas cidera, kematian, kerusakan atau kerugian langsung maupun tidak langsung, materiil dan immateriil yang disebabkan oleh informasi yang kami berikan. Untuk informasi dan tindakan lebih lanjut, sebaiknya kamu bisa mengkonsultasikannya dengan dokter hewan terdekat.
Apakah Anda memiliki keinginan untuk membudidayakan lobster air tawar? Cara budidaya lobster air tawar cenderung mudah untuk dilakukan. Lobster menjadi salah satu jenis makanan laut yang paling banyak diminati. Dagingnya luar biasa gurih dan nikmat untuk diolah menjadi berbagai jenis makanan. Ketahanan hidup lobster juga cukup tinggi. Ia mampu hidup di berbagai jenis air mengalir. Di tempat yang tidak ada air, lobster bahkan mampu hidup selama 8 jam. Keren kan? Harga jual dari Lobster air tawar nyatanya juga cukup tinggi. Itulah mengapa pembudidayaan lobster air tawar terus mendapatkan perhatian dari banyak pihak. Cara Membudidayakan Lobster Air Tawar Cara budidaya lobster air tawar tidaklah sesulit yang Anda bayangkan. Meskipun Anda masih pemula, Anda bisa melakukannya dengan baik asalkan mau belajar dan berusaha. Berikut langkah-langkah yang perlu dilakukan agar budidaya lobster air tawar yang akan Anda lakukan berjalan lancar. 1. Pilih bibit yang baik Langkah pertama, pilihlah bibit dengan baik. Pemilihan bibit harus dilakukan dengan penuh pertimbangan untuk mendapatkan anakan yang banyak. Pilihlah bibit yang sehat dan produktif. Penting bagi Anda untuk mengetahui perbedaan antara lobster jantan dan lobster betina. Membedakan lobster jantan dan betina memang tidak mudah. Cara membedakan paling mudah bisa dilakukan dengan membedakan warna capitnya. Warna capit lobster jantan merah dan menyala luas. Sedangkan warna capit lobster betina merah dan menyala lebih sedikit. 2. Mengawinkan Lobster Cara budidaya lobster air tawar berikutnya setelah memilih bibit adalah mengawinkannya. Proses perkawinan bisa dilakukan dengan meletakkan lobster jantan dan betina dalam satu wadah. Masukkan 5 lobster betina dan 3 lobster jantan dalam sebuah aquarium yang cukup. Pada dasarnya, lobster betinalah yang akan memilih pasangan dalam proses perkawinan. Jangan lupa, letakkan minimal 8 pipa paralon dengan diameter 2 inci dan panjang secukupnya. Tunggu dalam waktu hingga 2 minggu. Dua minggu berlalu, lobster betina pun akan bertelur. 3. Pindahkan induk Setelah dua minggu berlalu, lobster betina akan mengerami dan menetaskan telur-telurnya. Telur baru akan menempel pada udang dan posisi ekornya pasti akan terbuka. Anda bahkan bisa melihat telurnya dengan jelas. Ketika hal tersebut sudah terlihat, maka pindahkanlah indukan ke dalam wadah lain. Pada minggu ke 5 sejak pemindahan induk, maka telur akan mulai melepas dari induk dan bisa mencari makanan sendiri. Memang, semua telur biasanya tidak akan habis 100%. Lepaskan telur sisa yang belum rontok dari tubuh induk karena takutnya si induk akan merasa kelelahan menggendong telur terus menerus. 4. Pelihara Benih Cara budidaya lobster air tawar setelah semua benih sudah terlepas dari induk adalah memeliharanya dengan baik. Berikan anakan lobster makanan berupa umbi dan sayuran. Jika memungkinkan, Anda bisa memberikan cacing beku. Pemberian pakan harus dilakukan dengan teratur agar bisa berkembang dengan baik. Umumnya, ada beberapa benih yang akan mati karena terjadinya pergantian kulit pertama kalinya. Namun jika kematian disebabkan karena racun, carilah penyebabnya. 5. Panen Panen lobster air tawar bisa dilakukan ketika udang memiliki ukuran 1 hingga 2 cm. Lakukan pemanenan dengan menggunakan plastik scoopnet. Waktu pemanenan yang baik dilakukan pada jam 9 pagi di alam terbuka. Pastikan kualitas air harus sama dengan kualitas air di mana benih dipelihara sebelumnya. Jadi, benih pun tidak akan mengalami stress. Jika Anda melakukan pembudidayaan dengan baik, maka panen pun akan melimpah. Berikan pakan yang ideal dan sehat untuk menjaga kesehatan udang. Jangan lupa, perhatikan cara budidaya lobster air tawar di atas agar keuntungan yang didapatkan menjadi lebih banyak.
petunjuk teknis pelepasliaran lobster Panulirus spp. Figures - uploaded by Danu WijayaAuthor contentAll figure content in this area was uploaded by Danu WijayaContent may be subject to copyright. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free PETUNJUK TEKNIS PELEPASLIARAN LOBSTER Panulirus spp. PUSAT KARANTINA IKAN BADAN KARANTINA IKAN, PENGENDALIAN MUTU DAN KEAMANAN HASIL PERIKANAN KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN TAHUN 2018 ii PETUNJUK TEKNIS PELEPASLIARAN LOBSTER Panulirus spp. Pengarah Kepala Pusat Karantina Ikan Penanggung Jawab Kepala Bidang Operasi Karantina dan Keamanan Hayati Editor Totong Koordinator Jumadi Penyusun Ngurah Nyoman Wiadnyana Danu Wijaya Rd. Ferry Ichwan P. Risman Ferdiansyah Sri Retnoningsih Yeni Anggraeni Atit Wistati Awliya Prama Arta Adang Supardan ISBN 978-602-53781-3-3 Diterbitkan oleh Pusat Karantina Ikan Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu Dan Keamanan Hasil Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan Gedung Mina Bahari II Lantai 7 Jalan Medan Merdeka Timur No. 16 Jakarta Pusat, 10110 2018 iii KATA PENGANTAR Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga Petunjuk Teknis Juknis Pelepasliaran Lobster Panulirus spp. dapat diselesaikan. Juknis ini disusun berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 56/PERMEN-KP/2016 tentang Larangan Penangkapan dan/atau Pengeluaran Lobster Panulirus spp., Kepiting Scylla spp., dan Rajungan Portunus spp. dari Wilayah Negara Republik Indonesia khususnya Pasal 7 ayat 2 yang menyatakan bahwa setiap orang yang menangkap Lobster Panulirus spp. wajib melepaskan Lobster Panulirus spp. yang masih dalam keadaan hidup, serta dalam kondisi bertelur dan berukuran panjang karapas dibawah 8 delapan cm atau berat ≤ 200 gram per ekor Juknis ini disusun dalam rangka memberikan acuan bagi UPT KIPM dan instansi terkait lainnya dalam melakukan Pelepasliaran Lobster Panulirus spp. sehingga hasil yang diperoleh sesuai dengan yang diharapkan. Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang memberikan bantuan dan saran sehingga penyusunan Juknis ini dapat berjalan dengan baik dan lancar. Kritik dan saran sangat kami harapkan untuk penyempurnaan Juknis ini di masa yang akan datang. Jakarta, November 2018 Kepala Pusat Karantina Ikan Dr. Riza Priyatna v DAFTAR ISI Hal. KATA PENGANTAR - iii DAFTAR ISI - v DAFTAR TABEL - vi DAFTAR GAMBAR - vii DAFTAR LAMPIRAN- ix BAB I. PENDAHULUAN - 1 Latar Belakang - 1 Tujuan - 2 Sasaran - 2 Ruang Lingkup - 3 Landasan Hukum - 3 Definisi/Istilah - 4 BAB II. BIOLOGI DAN LINGKUNGAN HIDUP LOBSTER - 6 Klasifikasi - 6 Morfologi - 6 Ciri-ciri Lobster Jantan dan Betina - 10 Habitat - 14 Siklus Hidup - 16 BAB III. JENIS-JENIS LOBSTER Panulirus spp. - 19 Lobster Pasir Panulirus homarus - 19 Lobster Batik Panulirus longipes - 20 Lobster Mutiara Panulirus ornatus - 21 Lobster Batu Panulirus penicilatus - 23 Lobster Lumpur/Pakistan Panulirus polyphagus - 24 Lobster Bambu Panulirus versicolor - 25 BAB IV. PENANGANAN LOBSTER SEBELUM PELEPASLIARAN - 27 Persiapan Sarana dan Prasarana- 28 Wadah Tempat Perawatan - 28 Pelindung Shelter - 30 Ketersediaan Media Air - 31 Perawatan - 32 Benih Lobster - 32 Lobster Muda dan Bertelur - 33 vi Pengemasan dan Pengangkutan - 37 Benih Lobster - 37 Lobster Muda dan Bertelur - 38 BAB V. PELAKSANAAN PELEPASLIARAN - 40 Pemilihan Lokasi Pelepasliaran - 40 Cara Pelepasliaran - 41 BAB VI PELAPORAN - 44 DAFTAR PUSTAKA - 45 vii DAFTAR TABEL Hal. Tabel 1. Tahap Perkembangan Telur Lobster - 13 Tabel 2. Jenis dan habitat lobster di Indonesia - 15 Tabel 3. Kisaran Parameter Kualitas Air yang Optimal untuk Lobster - 32 Tabel 4. Ciri-Ciri Fisik Lobster Sehat, Stres dan Mati - 34 viii DAFTAR GAMBAR Hal. Gambar 1. Morfologi benih lobster Panulirus spp. fase puerulus - 8 Gambar 2. Morfologi lobster Panulirus spp. - 9 Gambar 3. Ciri-ciri jenis kelamin lobster jantan dan betina - 12 Gambar 4. Lobster bertelur. A= lobster batik P. longipes; B = lobster batu P. penicillatus di Perairan Prigi. - 14 Gambar 5. Siklus hidup lobster Panulirus homarus - 17 Gambar 6. Lobster pasir Panulirus homarus - 20 Gambar 7. Lobster Batik Panulirus longipes - 21 Gambar 8. Lobster mutiara Panulirus ornatus - 22 Gambar 9. Lobster batu Panulirus penicillatus - 24 Gambar 10. Lobster lumpur/pakistan Panulirus polyphagus - 25 Gambar 11. Lobster bambu Panulirus versicolor - 26 Gambar 12. Bak Filter - 29 Gambar 13. Bak tandon air laut dan air tawar - 30 Gambar 14. Pelindung shelter - 31 Gambar 15. Kondisi benih lobster yang sehat - 35 Gambar 16. Kondisi lobster mati - 35 Gambar 17. Pengemasan benih lobster - 38 Gambar 18. Pengemasan lobster dewasa - 39 ix DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Lokasi KKPN DAN KKPD untuk Pelepasliaran Lobster Panulirus spp. - 47 Lampiran 2. Format Berita Acara Pelepasliaran Lobster Panulirus spp. - 57 Lampiran 3. Laporan Pelaksanaan Pelepasliran Lobster Panulirus spp. - 58 I. PENDAHULUAN Latar Belakang Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menerbitkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 56/PERMEN-KP/2016 tentang Larangan Penangkapan dan/atau Pengeluaran Lobster Panulirus spp., Kepiting Scylla spp., dan Rajungan Portunus spp. dari Wilayah Negara Republik Indonesia. Peraturan tersebut diantaranya mengatur tentang ukuran yang boleh ditangkap, sebagaimana Pasal 7 ayat 1 bahwa setiap orang dilarang menjual benih lobster untuk budidaya dan ayat 2 bahwa setiap orang yang menangkap Lobster Panulirus spp. wajib melepaskan Lobster Panulirus spp. yang masih dalam keadaan hidup, serta dalam kondisi bertelur dan berukuran panjang karapas dibawah 8 cm atau berat ≤ 200 gram per ekor. Berdasarkan Permen-KP Nomor 56 Tahun 2016 tersebut telah dilakukan pengawasan di ditempat-tempat pemasukan dan pengeluaran seperti bandara dan pelabuhan yang ditetapkan, sesuai Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 76/KEPMEN-KP/2018 tentang Tempat Pemasukan dan Pengeluaran Media Pembawa Hama dan Penyakit Ikan. Disamping itu dilakukan pula di serta sentra-sentra penangkapan lobster. Pengawasan dilakukan oleh petugas karantina ikan dengan melibatkan pengawas perikanan, POLRI, dan pihak-pihak terkait. Pada tahun 2017 BKIPM telah menggagalkan pengeluaran benih lobster sebanyak ekor senilai Rp lobster under size sebanyak 739 kg senilai Rp dan lobster bertelur sebanyak 171 kg senilai Rp BKIPM, 2017. Kegiatan pelepasliaran lobster Panulirus spp. hasil penindakan karantina diharapkan dapat menambah pengayaan dan pemulihan populasi lobster di alam sesuai dengan potensi sumber daya ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan negara Republik Indonesia WPP-NRI. Untuk menjamin keberlangsungan hidup lobster yang dilepasliarkan perlu penanganan secara baik, terutama pada tahap persiapan dan pelaksanaan pelepasliaran. Sehubungan dengan hal tersebut perlu adanya Petunjuk Teknis Pelepasliaran Lobster Panulirus spp.. Tujuan Tujuan penyusunan Petunjuk Teknis ini adalah untuk memberikan petunjuk tata cara pelepasliaran lobster Panulirus spp. mulai dari tahap persiapan, pelaksanaan dan pelaporan. Sasaran Sasaran pengguna Petunjuk Teknis ini adalah Petugas Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan KIPM, instansi terkait, pemerintah daerah, Kelompok Masyarakat Pengawas POKMASWAS dan masyarakat. Ruang Lingkup Ruang lingkup Petunjuk Teknis ini meliputi 1. Klasifikasi, Morfologi, Habitat dan Siklus Hidup Lobster 2. Pemilihan Lokasi Pelepasliaran Lobster 3. Pengangkutan / Transportasi Lobster 4. Teknik Pelepasliaran Lobster 5. Peran Serta Masyarakat, dan 6. Pelaporan Landasan Hukum Landasan hukum penyusunan Juknis ini adalah sebagai berikut 1. Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1990 tentang Pelestarian Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya; 2. Undang-Undang RI Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan; 3. Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan, sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009; 4. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2002 tentang Karantina Ikan; 5. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2007 tentang Konservasi Sumberdaya Ikan; 6. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 05/MEN/2005 tentang Tindakan Karantina Ikan untuk Pengeluaran Media Pembawa Hama dan Penyakit Ikan Karantina; 7. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 56/PERMEN-KP/2016 tentang Larangan Penangkapan dan/atau Pengeluaran Lobster Panulirus spp., Kepiting Scylla spp., dan Rajungan Portunus spp. dari Wilayah Negara Republik Indonesia. Definisi / Istilah perut lobster yang terdiri dari 6 segmen yang terlihat dengan pelengkapnya termasuk kipas ekor. Pelengkap dari kepala, terdiri dari tiga pangkal dan dua flagela. Disebut sebagai antena pertama. Pelengkap dari kepala, terdiri dari lima segmen pangkal dan flagela. Fase setelah fase larva dimana berbentuk transparan, belum makan dari luar dan bergerak melayang, masih dipengaruhi arus dan gelombang laut. Lubang genital pada invertebrata cangkang keras yang melindungi organ dalam lobster dengan panjang karapas 50%, tipe perairan merupakan perairan semi terbuka/teluk dengan sirkulasi baik, kedalaman perairan 5-10 m, kecerahan 3-5 m, sirkulasi massa air/kecepatan arus 20-50 cm/detik, salinitas 28-32 ppt, suhu perairan 280-300 C, pH 7,8-8,5, dan Oksigen terlarut >5mg/L. Lokasi pelepasliaran diprioritaskan berada di kawasan konservasi atau dapat berada di luar kawasan konservasi yang memiliki karakter sama dengan habitat alami lobster. Beberapa lokasi yang berpotensi sebagai lokasi pelepasliaran lobster adalah Kawasan Konservasi Perairan Nasional KKPN dan Kawasan Konservasi Perairan Daerah KKPD yang saat ini telah dikelola oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan sepanjang memenuhi persyaratan teknis dapat dilihat pada Lampiran 1. 5. 2. Cara Pelepasliaran Lobster yang akan dilepasliarkan harus melalui tahapan prakondisi dan aklimatisasi terlebih dahulu. Hal ini dimaksudkan agar jenis lobster yang akan dilepasliarkan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan perairan baru sehingga tingkat kelangsungan hidupnya tinggi. Penyesuaian terhadap lingkungan ini biasanya berkaitan erat dengan suhu air dan salinitas. Suhu sangat berpengaruh dalam proses adaptasi saat penebaran benih, oleh karena itu penebaran benih harus dilakukan pada saat suasana teduh, yaitu di pagi hari dimana kondisi gelombang dan arus air laut juga sedang tenang. Sebelum benih lobster ditebar, benih perlu diadaptasikan dengan cara aklimatisasi suhu penyesuaian suhu terlebih dahulu sebelum dilepas ke laut. Lobster yang dikemas dalam kantong plastik beroksigen, terlebih dahulu dilakukan aklimatisasi. Proses aklimatisasi dengan cara mengapungkan kantong plastik yang berisi lobster diatas permukaan air. Hal ini dimaksudkan agar suhu dalam kantong plastik mencapai kisaran dengan suhu air di lokasi pelepasliaran. Setelah itu, lobster ditebarkan dengan cara membuka kantong plastik dan melepas lobster secara perlahan. Cara pelepasliaran yang benar dapat memperkecil resiko mortalitas kematian lobster yang dilepasliarkan, baik sebagai akibat predasi oleh predator atau akibat kompetisi. Tiga cara tebar yang dapat digunakan berdasarkan luas wilayah perairan, yaitu a. tebar spot, yaitu pelepasliaran seluruh lobster di satu titik di kawasan yang telah ditentukan, teknik ini dilakukan pada wilayah perairan yang tidak terlalu luas. b. tebar scatter yaitu pelepasliaran lobster di lebih dari satu titik di dalam satu kawasan perairan, teknik ini dilakukan untuk kawasan perairan yang cukup luas. c. tebar trickle yaitu pelepasliaran yang dilakukan beberapa kali selama periode tertentu di salah satu kawasan perairan, teknik ini dilakukan untuk wilayah perairan yang luas dan sifat perairannya tidak banyak berubah dari waktu ke waktu. VI. PELAPORAN Laporan kegiatan dibutuhkan untuk mendokumentasikan kegiatan pelepasliaran. Laporan juga berfungsi sebagai bentuk pertanggungjawaban kegiatan terhadap instansi terkait lainnya. Laporan dibuat secara tertulis dalam bentuk laporan teknis serta dapat memberikan informasi yang padat, sistematik dan terarah mengenai proses pelepasliaran lobster dari mulai persiapan sampai dengan pelaksanaan. Disamping itu pada pelaporan perlu dilampirkan berita acara pelepasliaran sebagaimana terlampir dalam Lampiran 2. Pelaporan dibuat setelah kegiatan pelepasliaran tersebut, dan disampaikan kepada atasan pelaksana pelepasliaran. Laporan hasil pelaksanaan pelepasliaran lobster mengikuti format pelaporan yang umum sebagaimana terlampir dalam Lampiran 3. DAFTAR PUSTAKA Berry, P. F. 1971. The biology of the spiny lobster Panulirus homarus Linneaus off the east coast of Southern Africa. Oceanographic Research Institute, Durban. Invest. Rep. No. 28. 75 pp. BP2KSI. 2015. Ecological Assessment untuk Restocking Benih Lobster di Kawasan Konservasi Perairan Indonesia. Laporan Teknis. Balai Penelitian Pemulihan dan Konservasi Sumber Daya Ikan. Chan, 1998. Lobsters. In Carpenter, & Niem, eds. FAO species identification guide for fishery purposes. The living marine resources of Western Central Pacific. Volume 2. Chepalopods, crustaceans, holothurians and sharks. FAO. Rome. pp. 973-1043. Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan. Kanisius. Yogyakarta, 258 hlm. Ghory, Kasmi, Akhtar, A., Roohi, Z., & Bano, H. 2005. Some developmental stages of spiny lobsters collected from the northern arabian sea. Pakistan Journal of Marine Science 142, 145-156. Holthuis, 1991. FAO species catalogue. Vol. 13. Marine lobsters of the world. An annotated and illustrated catalogue of species of interest to fisheries known to date. FAO Fisheries Synopsis. No. 125, Vol. 13. Rome, p. Kalih, 2012. Keragaman Serta Distribusi Lobster Anggota Palinuridae dan Scyllaridae di Perairan Pantai Pulau Lombok. Tesis Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Kartamiharja, & Satria, F. 2016. Petunjuk Teknis Pengkayaan Stok Stock Enhancement dan Rehabilitasi Habitat Lobster Panulirus spp. Balai Penelitian Pemulihan dan Konservasi Sumber Daya Ikan. 39 hlm. Nurfiarini, A & Purnamaningtyas, 2017. Pencatatan kedua dan beberapa aspek biologi lobster batik merah Panulirus longipes femoristriga Von Martens, 1872 yang ditangkap di Teluk Sepi, Lombok Barat. J. Lit. Perikan. Ind. 223, 141-152. Philips, and George. 1980. General Biology. The biology and Management of Lobster. Edt. and Phillips. Academic Press. New York 1 2-72. Sukamto, Muryanto, T. & Kuslani, H. 2017. Teknik identifikasi jenis kelamin lobster berbasis ciri-ciri morfologi. Buletin teknisi litkayasa 152, 99-102. LAMPIRAN 1. LOKASI KKPN DAN KKPD UNTUK PELEPASLIARAN LOBSTER Panulirus spp. Kawasan Konservasi Laut Daerah Perairan Pulau Pinang, Siumat dan Simanaha Pisisi Kawasan Konservasi Laut Daerah Kab. NAD Jaya Kawasan Konservasi Daerah Kawasan Bina Bahari Kawasan Konservasi Perairan Pesisir Timur Pulau Weh Kota Sabang II. Provinsi Sumatera Utara Kawasan Konservasi Laut DaerahSerdang Bedagai sebagian P. Berhala, P. Sokong Nenek dan Siembah Kawasan Konservasi Laut Daerah Tapanuli Tengah Kawasan Konservasi Laut Daerah Nias Selatan Kawasan Konservasi Perairan Daerah Nias Utara III. Provinsi Sumatera Barat Sungai Batang Pelangai Sebagai Kawasan Konservasi Perairan Daerah Kabupaten Pesisir Selatan ● Konservasi Terumbu Karang dan Kawasan Wisata bahari Pulau Ujung, Pulau Tangah dan Pulau Angso; ● Konservasi Penyu dan Kawasan Wisata Bahari Pulau Kasiak Kawasan konservasi perairan payau Jorong Maligi Kawasan Konservasi Laut Daerah Kep. Mentawai lokasi Desa Saibi Samukop,Saliguma dan desa Katurai Kawasan Konservasi Suaka Alam Perairan Batang Gasan Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Sebagai Taman Pulau Kecil Kota Padang Kawasan Konservasi Perairan Daerah Kab Agam Kawasan Konservasi Perairan Daerah Kab Solok Kawasan Suaka Perikanan Ikan Terubuk Kawasan Konservasi Perairan Daerah Kab. Bungo Kawasan Suaka Perikanan Arwana Kutur Kawasan Konservasi Laut Daerah Kaur Linau,Merpas, dan Sekunyit Kawasan Konservasi Laut Daerah Kabupaten Mukomuko Kawasan Konservasi Perairan di Kec. Enggano Kab Bengkulu Utara Kawasan konservasi perairan, pesisir dan pulau-pulau kecil KKP3K - taman pesisir ngambur dan taman Pulau Betuah Taman Wisata Perairan Teluk Kilauan Taman Pulau Batang Segama VIII. Provinsi Bangka Belitung Taman Wisata Perairan Gugusan Pulau-pulau Momparang dan Laut Sekitarnya Daerah Perlindungan Laut Kabupaten Bangka Barat Kawasan konservasi Perairan kab Belitung Daerah Perlindungan Laut Kabupaten Bangka Selatan Kawasan Konservasi Perairan Laut Daerah Kabupaten Bangka Tengah IX. Provinsi Kepulauan Riau Kawasan Konservasi laut Daerah Bintan Marine Management Area Coremap Batam Kawasan Konservasi Laut Natuna Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kabupaten Natuna Kawasan Konservasi Perairan Daerah Lingga Taman Wisata Kepualauan Anambas Kawasan Konservasi Laut Daerah Pandeglang Pulau Biawak dan sekitarnya sebagai kawasan konservasi wisata laut Kawasan Konservasi Laut Daerah Ciamis Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil KKP3K Kabupaten Sukabumi dengan status Taman Pesisir XII. Provinsi Jawa Tengah Kawasan Konservasi Laut Daerah Pantai Ujungnegoro – Roban Kawasan Konservasi Perairan Karang Jeruk, Tegal Suaka Perikanan Waduk Malahayu dan Waduk Penjalin Kawasan Taman Pulau Kecil Pulau Panjang Kab Jepara Suaka Alam Perairan Kabupaten Gunungkidul Kawasan Konservasi Taman Pesisir Di Kabupaten Bantul Kepulauan Sepanjang dan Sekitarnya sebagai Kawasan Konservasi Laut Daerah Taman Wisata Pasir Putih Kabupaten Situbondo Kawasan Konservasi Perairan Daerah Pasuruan Taman Pulau Kecil, P. Kedung, P. Watu, P. Pandansari Kawasan Konservasi Perairan Nusa Penida Taman Wisata Perairan Buleleng Kawasan Konservasi Perairan Jembrana Kawasan Konservasi Perairan Daerah Kabupaten Karangasem XVI. Provinsi Nusa Tenggara Barat Taman Wisata Perairan Gili Sulat dan Lawang Taman Wisata Perairan Gili Tangkong, Gili Nanggu dan Gili Sundak Taman Wisata Perairan Teluk Bumbang Taman Pulau Kecil Gili Balu dan Taman Pesisir Penyu Tatar Sepang Taman Pulau Kecil Pulau Keramat, Bedil dan Temudong Taman Pesisir Penyu Lunyuk Taman Wisata Perairan Pulau Liang dan Pulau Ngali Suaka Alam Perairan Teluk Cempi Taman Wisata Perairan Gili Banta TWP Gili Ayer, Gili Meno, Gili Trawangan XVII. Provinsi Nusa Tenggara Timur Kawasan Konservasi Laut Daerah Selat Pantar Suaka Alam Perairan Kabupaten Flores Timur Kawasan Konservasi Perairan Laut Kabupaten Sikka Suaka Perikanan Perairan Pulau Lembata, Daerah Perlindungan Adat Maritim Tanjung Atadei dan Teluk Penikenek, Suaka Pulau Kecil Perairan Laut Pulau Komba XVIII. Provinsi Kalimantan Barat Bengkayang - Pulau Randayan Kawasan Konservasi Laut Daerah Bengkayang Pulau Randayan dan pulau-pulau sekitarnya Taman Pulau Kecil Kendawangan XIX. Provinsi Kalimantan Tengah Kawasan Konservasi Perairan Daerah Kotawaringin Barat XX. Provinsi Kalimantan Selatan Kawasan Konservasi dan Wisata Laut Pulau Laut Barat-Selatan dan P. Sembilan Kawasan PerlindunganLaut Daerah Kab. Tanah Bumbu XXI. Provinsi Kalimantan Timur Kawasan Konservasi Taman Pesisir dan Taman Pulau Kecil Kepulauan Derawan dan Perairan sekitarnya Kawasan Konservasi Perairan Wilayah Pesisir Dan Laut Kota Bontang XXII. Provinsi Kalimantan Utara kawasan pelestarian plasma nuftah flora dan fauna pesisir tanjung cantik dan sekitarnya kecamatan nunukan kawasan konservasi flora dan fauna muara gugusan pulau sinelak kecamatan nunukan Kawasan Konservasi Perairan Daerah di desa setabu kec. Sebatik barat XXIII. Provinsi Sulawesi Utara Kawasan Konservasi Laut Daerah Kab. Minahasa Selatan Kawasan konservasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kota bitung Kawasan Taman Wisata Perairan Kab Minahasa Utara Kawasan Konservasi Perairan Daerah Minahasa Kawasan Konservasi Taman Pulau Kecil Kepulauan Tatoareng dan Perairan sekitarnya Kawasan Konservasi Laut Daerah Desa Olele Kawasan Konservasi Perairan Daerah Boalemo KKPD Gorontalo utara - perairan pulau mohinggito desa ponelo kecamatan ponelo XXV. Provinsi Sulawesi Tengah Kawasan Konservasi Laut Daerah Banggai Kepulauan pulau Tolobundu, P. Bandang Besar, P. Makaliu, P. Maringkih, P. Sonit, P. Banggai Kawasan Konservasi Laut Daerah Kabupaten Banggai Kawasan Konservasi Perairan Daerah Teluk Tomini Kawasan Konservasi Perairan Daerah Kab Morowali Taaman Wisata Perairan Libutan Sibitolu, Kab Toli-Toli Kawasan Konservasi Perairan Daerah Banggai Laut Kawasan Konservasi Perairan KKP Kabupaten Buol XXVI. Provinsi Sulawesi Barat Kawasan Konservasi Perairan Daerah Wilayah Pesisir Di Kabupaten Majene Kawasan Konservasi Perairan / Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Kabupaten Polewali Mandar Kawasan Konservasi Perairan Daerah Kab. Mamuju XXVII. Provinsi Sulawesi Selatan Kawasan Konservasi Laut Daerah Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan Kawasan Konservasi Laut Daerah Pulo Pasi Gusung Kawasan Konservasi Laut Kabupaten Luwu Utara Kawasan Konservasi wilayah pesisir dan Pulau-pulau kecil Kab Barru Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan Pangkep XXVIII. Provinsi Sulawesi Tenggara Kawasan Wisata Laut Selat Tiworo dan Pulau-pulau sekitarnya Kawasan Konservasi Perairan Daerah Kabupaten Bombana –TWP Suaka Perikanan Kabupaten Konawe Kawasan Konservasi Perairan Daerah Buton Taman wisata Perairan Kawasan Konservasi Perairan Daerah Muna - Taman wisata Perairan Kawasan Konservasi Perairan Daerah Kolaka Utara - suaka perikanan Kawasan Konservasi Laut Daerah Buton Kawasan Konservasi Peraran - Taman Wisata Perairan Pulau Wawonii XXIX. Provinsi Maluku Utara Kawasan Konservasi Perairan Daerah Kepulauan Guraici dan Laut Sekitarnya di Kab. Halmahera Selatan Kawasan Konservasi Perairan Daerah KKPD Kab. Pulau Morotai Suaka Pulau Kecil Kabupaten Halmahera Tengah – pulau Jiew Kawasan Konservasi Perairan Daerah Kota Tidore Kelpulauan Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil KKP3K gugusan Pulau Widi sebagai Suaka Pulau Kecil Di kab Halmahera Selatan Kawasan Konservasi Perairan Kab Seram Bagian Timur Kawasan Konservasi Perairan Kab Maluku Tenggara Taman Wisata Pulau Baeer di dusun Duroa kecamatan Pulau Dullah Utara Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil KKP3K Taman Pulau Kecil Kawasan Konservasi pesisir dan pulau-pulau kecil kepulauan lease Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku Kawasan Konservasi Perairan Pulau Ay-Pulau Rhun, Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku SAP Kepulauan Aru Tenggara XXXI. Provinsi Papua Barat ● SAP Kepulauan Raja Ampat dan Laut di sekitarnya ● SAP Kepulauan Waigeo sebelah barat dan laut disekitarnya ● TWP Raja Ampat Kawasan Konservasi Laut Kaimana Kawasan Konservasi Perairan Daerah Tambrauw Kawasan Konservasi Laut Daerah Kabupaten Biak Numfor LAMPIRAN 2. FORMAT BERITA ACARA PELEPASLIARAN LOBSTER Panulirus spp. BERITA ACARA PELEPASLIARAN Nomor - Pada hari ini .......... tanggal . .......... bulan .......... tahun .......... pukul .......... WIB, Saya .......... Pangkat/Gol. .......... / .......... NIP. .......... Jabatan .........., bersama-sama dengan .......... Pangkat/Gol. ........../ .......... NIP. .......... Jabatan .......... pada kantor tersebut diatas, telah melakukan pelepasliaran berupa .......... dengan ukuran .......... sebanyak .......... ekor, ..........* yang dilaksanakan di perairan .......... Dengan disaksikan oleh a. N a m a ................. Alamat ................... Pekerjaan ................... b. N a m a .................. Alamat .................. Pekerjaan .................. c. N a m a ................. Alamat ................. Pekerjaan ................. - Demikian Berita Acara Pelepasliaran ini dibuat dengan sebenarnya atas kekuatan sumpah jabatan, kemudian ditutup dan ditandatangani di .......... pada tanggal tersebut di atas. - ............................. ............................ .......................... ........................... ............................ ......................... KOP SURAT NAMA UPT ........................................ ALAMAT UPT ..................................... LAMPIRAN 3. LAPORAN PELAKSANAAN PELEPASLIARAN LOBSTER Panulirus spp. LAPORAN PELEPASLIARAN Nomor benih/induk/bertelur/dibawah ukuran* Nama tempat, Prov., Kab., Kec. Nomor Penahanan, Nomor Berita Acara Serah Terima Barang, Nomor Berita Acara Pelepasliaran Tempat, tanggal/bulan/tahun Kepala, Nama NIP. ResearchGate has not been able to resolve any citations for this present study is based on zooplankton samples collected during a Cruise l of the NASEER Northern Arabian Sea Ecological and Environmental Research programme during 1992, b ONR Office of the Naval Research US project during 1993-1995, and c older samples of plankton housed in the Marine Reference Collection and Resource Centre, University of Karachi. The plankton was screened for the larval and postlarval stages of Pakistani lobsters, all found belonging to the genus Palinurus. The stages are described and SukamtoTri MuryantoHendra KuslaniLobster merupakan salah satu komoditas perikanan andalan Indonesia karenamempunyai nilai ekonomis penting, baik untuk pasar dalam negerimaupun luar negeri. Saat ini kebutuhan akan lobster masihmengandalkan hasil tangkapan dari laut. Lobster laut sangat beragam jenisnya dan mempunyaispesifikasi perkembangan dan habitat hidup longipes femoristriga atau lobster batik merah merupakan salah satu jenis tropical spiny lobster dari Famili Palinuridae yang jarang ditemukan di Perairan Indonesia. Untuk itu penting dilakukan pengamatan aspek biologi lobster batik merah ini dan sejarah penemuannya di perairan Indonesia. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan metode percobaan penangkapan dengan tangan dan bantuan kompresor. Beberapa analisis yang dilakukan antara lain analisis komposisi, kelas ukuran, kebiasaan makanan, analisis tingkat kematangan gonad dan fekunditas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan sejarah ditemukan, lobster batik merah P. l. femoristriga merupakan tropical spiny lobster dari kelompok Palinuridae dan merupakan salah satu sub varian dari lobster batik P. longipes. Jenis ini tercatat ditemukan di perairan Lombok sebagai lokasi ke empat di Indonesia setelah Perairan Sulawesi, Papua Barat, dan Ambon. Komposisinya di perairan menempati nilai prosentase bobot dan jumlah masing masing dalam kisaran 11,26-12,03 % dan 21,28- 22,5 %, berada di urutan ke empat setelah lobster batu, bambu dan batik. Struktur ukuran hasil tangkapan didominasi ukuran larang tangkap. Kebiasaan makanan dari lobster batik merah terdiri atas kelompok moluska jenis gastropoda dan bivalvia, krustasea jenis udang udangan dan kepiting serta makrofita. Fekunditas bekisar antara – butir dengan diameter telur berkisar antara 0,45-0,79 mm. Panjang karapas dan bobot pada saat pertama kali matang gonad masing-masing adalah 3,8 – 4,7 cm cm dan 66,12 – 106,45 gr. rata rata 87,58 gr.Panulirus longipes femoristriga or red batik lobster white-whiskered coral crayfish is one type of tropical spiny lobster from the Family of Palinuridae that is rarely found in Indonesian waters. It is important to observe the biological aspects of this red batik lobster and the history of its discovery in Indonesian waters. The research was carried out using a hand-held method of and compressor equipment. Several analyzes were performed, among others, composition analysis, class size, food habits, maturity level analysis of gonad and fecundity. The results showed that based on the history of the red batik lobster P. l. femoristriga tropical spiny lobster of one of sub variants of batik lobster P. longipes. This species recorded is found in the waters of Lombok as the fourth location in Indonesia after the waters of Sulawesi, West Papua, and Ambon. Its composition occupies precentage value of weight and number of each in the range of to and to respectively, ranked as fourth after rock, bamboo and batik lobsters. The size of the catch is dominated by the size of the ban. The food habit of red batik lobsters of mollusks gastropods and bivalves, crustaceans shrimps and crabs as well as macrophytes. Fecundity ranged between 8,332 - 66,076 eggs, with diameter ranging from to mm. The carapace length and weight at the first mature gonad ranged between - cm cm and - gr average gr, species identification guide for fishery purposes. The living marine resources of Western Central PacificT Y ChanChan, 1998. Lobsters. In Carpenter, & Niem, eds. FAO species identification guide for fishery purposes. The living marine resources of Western Central Pacific. Volume 2. Chepalopods, crustaceans, holothurians and sharks. FAO. Rome. pp. Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan PerairanH EffendiEffendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan. Kanisius. Yogyakarta, 258 lobsters of the world. An annotated and illustrated catalogue of species of interest to fisheries known to date. FAO Fisheries SynopsisL B HolthuisHolthuis, 1991. FAO species catalogue. Vol. 13. Marine lobsters of the world. An annotated and illustrated catalogue of species of interest to fisheries known to date. FAO Fisheries Synopsis. No. 125, Vol. 13. Rome, Serta Distribusi Lobster Anggota Palinuridae dan Scyllaridae di Perairan Pantai Pulau Lombok. Tesis Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah MadaL A T T W S KalihKalih, 2012. Keragaman Serta Distribusi Lobster Anggota Palinuridae dan Scyllaridae di Perairan Pantai Pulau Lombok. Tesis Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada, Teknis Pengkayaan Stok Stock Enhancement danE S KartamiharjaF SatriaKartamiharja, & Satria, F. 2016. Petunjuk Teknis Pengkayaan Stok Stock Enhancement danGeneral Biology. The biology and Management of LobsterB F PhilipsJ S CobbR W GeorgePhilips, and George. 1980. General Biology. The biology and Management of Lobster. Edt. and Phillips. Academic Press. New York 1 2-72.
Cara Budidaya Lobster Air Tawar – Lobster merupakan keluarga crustacea yang memiliki harga jual yang tinggi. Harga tinggi ini karena lobster memiliki cita rasa yang sangat lezat, kaya akan kandungan gizi dan tidak banyak mengandung air kesat. Permintaan hewan laut jenis ini semakin meningkat sehingga banyak orang beralih membudidayakan lobster di air tawar. Berikut cara budidaya lobster air tawar yang terbukti sukses dan menguntungkan. Baca Juga Cara Ternak Ikan Hias Pemeliharaan, Pakan, Memilih Calon Indukan, Pemijahan, Penetasan, Keunggulan Budidaya Lobster Air Tawar Cara Budidaya Lobster Air Tawar – Budidaya lobster air tawar memiliki keunggulan tehnis maupun non tehnis dibanding jenis udang lainnya adalah Teknik budidaya yang sederhana Pertumbuhan relative cepat Lebih tahan terhadap berbagai penyakit, terutama White Spot Syndrome Virus WSSV Modal relatif kecil Warna tubuh menarik Memiliki kandungan gizi tinggi dengan kadar lemak rendah 5 mg/liter Kadar ammoniak 6 bulan lebih tua lebih bagus Ukuran tubuh 20 – 25 Cm Penampilannya menawan dan lincah gerakannya. 1. Cara Pemijahan Indukan Sampai saat ini pemijahan lobster hanya dilakukan secara alami. Bantuan manusia hanya berupa penyediaan alat, bahan dan mengusahakan kondisi lingkungan yang memungkinkan terjadinya perkawinan dan pemijahan secara alami. Kondisi lingkungan yang diharapkan agar terjadi pemijahan alami adalah suhu antara 23° – 29° C optimum 27° C cahaya terang 12 jam dam gelap 12 jam. Pemijahan dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu pemijahan massal atau pemijahan individu. Pemijahan massal dilakukan di kolam dengan ukuran tubuh indukan minimal 20-22 Cm. Perbandingan indukan jantan dan betina 23 per M². Sedangkan pemijahan Individual dilakukan di aquarium dengan ukuran tubuh indukan 16-18 Cm dan perbandingannya 11 per aquarium. Tanda-tanda induk betina yang telah melakukan pemijahan dan berhasil terjadi pembuahan adalah dengan melipat ekornya sehingga kipas ekor sampai mengenai kaki ke 5 dan badannya berbusa. Baca Juga Cara Ternak Yuyu Induk betina awalnya lebih suka berbalik dan diam seolah-olah mati, beberapa hari kemudian akan normal kembali tetapi ekornya tetap terlipat. Untuk selanjutnya telur tersebut akan dierami induknya. Indukan yang sedang bertelur dapat disatukan dengan indukan-indukan lain yang bertelur juga, tetapi jangan melakukan kejutan atau perubahan lingkungan secara drastic agar prosesnya dapat berjalan secara alamiah. 2. Pengeraman Pengeraman dan penetasan telur lobster air tawar sesuai karakteristik biologi reproduksi. Ada 3 tahapan perkembangan alamiah dari telur sampai terbentuknya juvenile, yaitu Masa pre larva, yaitu perkembangan embrio dalam telur. Masa larva, yaitu perkembangan larva saat diasuh indukannya Masa post larva, yaitu perkembangan saat juvenile lepas dari abdomen indukannya. Pada masa pengeraman, indukan tidak banyak aktivitasnya dan konsumsi pakannya juga sedikit. Hal-hal yang harus dilakukan pada masa pengeraman ini dalah Induk yang sedang bertelur dipisahkan dari jantan. Pakan yang diberikan relatif sedikit. Oksigen terlarut >5 ppm dengan fluktuasi suhu rendah. Wadah diberi pelindung sesuai jumlah individu. 3. Penetasan Agar pertumbuhan telur tidak terganggu maka sebaiknya indukan yang sedang mengeram tidak diganggu/dipindahkan. Pemindahan indukan ini harus hati-hati dan sebaiknya sekalian dengan shel ternya dan tidak terlalu jauh. Pemindahan ini paling tidak saat telur telah berumur 7 hari atau sudah terlihat warna krem. Selama proses pengeraman sampai penetasan, induk lobster akan sering menutup/melipat ekornya. Proses penetasan atau terbentuknya juvenile adalah sebagai berikut Minggu pertama sampai minggu ke dua, telur berwarna orange Minggu ke tiga, warna telur berubah menjadi lebih muda dan transparan di bagian tertentu serta muncul 2 titik hitam sebagai bakal mata juvenile. Minggu ke empat, telur menetas dan juvenile muda terbentuk. Perlu 2-3 hari agar juvenile muda bisa terlepas dari abdomen indukannya. Perontokan dan Pemeliharaan Bibit Lobster Air Tawar Jika juvenile sering terlihat turun dan bermain di sekitar induknya, maka harus segera dirontokkan dan di pisah dari induknya. Kemudian induknya dikembalikan pada bak pemijahan agar segera terjadi perkawinan kembali. Cara menangkap induk untuk proses perontokan bibit lobster air tawar adalah dengan menggunakan kedua tangan. Tangan kanan di sekitar kepala dan tangan kiri di bagian ekor. Perontokan juvenile lobster dengan membiarkan induk lobster mengibas-kibaskan ekornya pada permukaan air sehingga juvenile rontok dengan sendirinya atau dibantu dengan jari tangan. Cara pemeliharaan bibit lobster air tawar pasca perontokan adalah pemberian pakan berupa cacing sutra, kutu air, planktonis, artemia dan tepung ikan atau pellet yang dihancurkan. Pemberian pakan ini dilakukan 2 kali sehari. Kelebihan pakan akan mengakibatkan juvenile mati karena kebanyakan ammonia dari sisa pakan yang mengendap. Pastikan kebersihan air dan jumlah pakan yang diberikan selalu habis tidak tersisa. Pemeliharaan juvenile sampai umur 14 – 20 hari atau sampai ukuran 1 – 2 Cm sebelum dipindahkan ke bak pendederan. Pendederan Pendederan dilakukan untuk merangsang pertumbuhan bibit hingga mencapai ukuran 5 – 7 Cm atau sekitar umur 2 bulan. Untuk kolam pendederan berukuran 2 X 1 X 0,5 m dapat diisi bibit lobster sebanyak 1000 ekor. Pakan yang diberikan saat pendederan adalah pellet udang. Cara Pemindahan Bibit Lobster air Tawar ke Kolam Pendederan Persiapkan alat panen bibit lobster terlebih dahulu berupa ember plastic ukuran 20 liter, scoopnet 20 X 10 Cm dan daun pisan atau sobekan plastic ikan. Pemanenan hendaknya dilakukan sebelum jam 9 pagi agar tidak terjadi perbedaan suhu yang drastis antara kolam penetasan dan pendederan. Cara panennya dengan menurunkan volume air di kolam/aquarium sampai setinggi 15-20 Cm. Kemudian tangkap bibit lobster dengan scoopnet secara hati-hati dan pindahkan ke dalam ember plastic yang berisi air bersih dan dilengkapi sobekan daun pisang. Satu ember plastic 20 liter maksimal berisi 20 ekor bibit lobster. Cara Pembesaran Lobster Air Tawar secara Efektif Kolam pembesaran lobster air tawar bisa berupa aquarium atau kolam terpal/semen. Kolam pembesaran harus dipastikan tidak terkontaminasi zat beracun ataupun pestisida. Untuk itu perlu dilakukan desinfeksi secara herbal atau dengan menggunakan GDM Black BOS. Kondisi ideal kolam pembesaran lobster adalah Keasaman pH air 7 – 8 Suhu berkisar 25° – 29°C Oksigen terlarut >4 ppm Tidak ada kebocoran. Penebaran bibit lobster air tawar Lakukan tebar benih dengan ukuran yang seragam 5 – 7 Cm. Kepadatan tebar adalah 5 – 10 ekor/M². Sebaiknya dilakukan pada pagi hari sebelum jam 9 dengan aklimatisasi ±15 – 30 menit. Perawatan Lobster Air Tawar Perawatan lobster air tawar meliputi pemberian pakan dan suplemen serta pencegahan terhadap serangan hama penyakit dan lain-lain. 1. Pemberian pakan lobster air tawar Pemberian pakan dilakukan rutin 2 kali sehari yaitu pagi dan sore hari. Volume pakan adalah 3% dari bobot tubuhnya yang diberikan pagi sebanyak 25% dan sore 75%. Pakan dapat berupa pellet dan pakan fermentasi dari parutan ketela pohon + parutan jagung muda + sayuran dan SOC GDM dengan dosis 10 ml/Kg campuran pakan. Dengan pemberian SOC GDM maka dapat meningkatkan nafsu makan, menguraikan sisa pakan dan kotoran sehingga tidak terbentuk ammonia dalam air. 2. Pengendalian Hama Penyakit Kematian bibit lobster kebanyakan diakibatkan oleh akumulasi ammonia terlarut karena banyaknya sisa pakan dan kotoran yang mengendap di dasar kolam. Dengan aplikasi SOC GDM pada pakan dan langsung ke air kolam sebanyak 6 ml/m², interval seminggu sekali, maka kotoran atau sisa pakan tidak sampai mengendap dan ammonia terlarut akan jauh berkurang. Baca Juga Cara Ternak Ikan Guppy Dengan Mudah Hama yang perlu diwaspadai adalah predator, seperti kucing dan tikus, terutama saat molting dan mendekati panen. Membersihkan saringan/filter dan dasar kolam Menjaga aerator agar dapat bekerja dengan baik Mengganti air kolam maksimal 2/3 bagian jika terlalu banyak kotoran yang mengendap di dasar kolam. 3. Cara Pemanenan Lobster Air Tawar Lobster air tawar mulai dapat dipanen pada umur 6 – 8 bulan atau beratnya berkisar 100 gram ke atas. Semakin besar ukuran lobster maka harganyapun semakin mahal. Demikian artikel dari mudah-mudahan bermanfaat dan selalu sukses dalam budidaya Lobsternya amin…bay…bay…by
cara mengetahui lobster bertelur